Puncak Mahameru
·
Mahameru
inilah puncak tertinggi Jawa nan mengangumkan. Mahameru mendengar namanya saja
sudah membuat hatiku berdebar,dalam bahasa jawa
Maha yang artinya dewa dan Meru yang artinya gunung. Dan Mahameru yang
artinya dewa gunung ( haha, tapi dah bener tuh artinya ). Gunung yang keren,
baru-baru ini ada buku + film yang keluar tentang Mahameru yaitu 5 CM. Sungguh
cerita yang indah kalau kalian baca tak akan menyesal kalau beli bukunya,
dengan tertegun aku mendengar cerita temanku yang rumahnya Sentolo ia menuju
Jogja dengan memakai sepeda onthel di siang bolong yang panas dan pada waktu
pulang ia ternyata jauh-jauh ke Jogja hanya untuk membeli buku berjudul 5 CM
sungguh perjuangan yang keras dari salah satu temanku itu. Tak lama aku pun
juga beli lalu kubaca sampai selesai memang sungguh mengesankan cerita itu. 5
CM membuatku terinspirasi untuk bermimpi setinggi mungkin. Dan akan kuulas
segelumit tentang pengarangnya kalau ceritanya mending beli bukunya aja deh.
· Dhony Dhirgantoro lahir di Jakarta 27 Oktober 1978,
menyelesaikan masa putih abu abunya di SMA 6 Jakarta. Meneruskan kuliah di STIE
PERBANAS Jakarta ( sekarang ABFI Institute, Perbanas ) angkatan 1997. Semasa
kuliah aktif di klub fotografi kampus dan Senat Mahasiswa. Pengalaman yang
tidak pernah bisa ia lupakan di Senat Mahasiswa adalah sewaktu ia dan teman
teman aktivis lainnya menghidupkan kembali pelatihan aktivis mahasiswa Perbanas
(Latihan Kepemimpinan Mahasiswa- LKM ), yang telah beberapa tahun vakum. Di LKM
ini ia dan teman meneruskan tradisi pemberian beasiswa bagi aktivis mahasiswa
berprestasi, yang dulu ia sendiri sangat menyesal pernah tidak mendapatkannya.
Pemberian beasiswa itu masih terus berlanjut sampai sekarang.
Salah satu kebanggaan lain yang tak terlupakan sewaktu menjadi mahasiswa adalah pada tahun 1998 ikut “berjuang” bersama teman teman mahasiswa Indonesia menjadi titik kecil berwarna warni yang berteriak lantang, bergerak sesak memenuhi gedung DPR/MPR.
Selama masa kuliah selain aktif di kampus, dan menjadi Ketua Karang Taruna RW 06 di lingkungannya, ia bekerja freelance menjadi Instruktur Outbound Management Training di PT BINA INTI MUDA UTAMA, sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia di Jakarta.
Donny menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2001, dengan skripsi tentang strategi periklanan dan komunikasi pemasaran. Setelah skripsinya selesai ia langsung merayakannya dengan pergi mendaki Mahameru dengan teman temannya untuk merayakan upacara bendera 17 agustus di puncaknya. Sebuah perjalanan yang kelak akan merubah hidupnya.
Saat bekerja sebagai Trainer/ Instructor SDM ia mendapatkan banyak sekali pelajaran tentang sumber daya manusia dan pengaplikasiannya di lapangan. Saat pelatihan, ia bertemu dengan masalah masalah yang dihadapi struktur struktur manajerial, benturan benturan antara nilai nilai perusahaan dan nilai nilai individu. Ia sadar pekerjaan ini sangat bermanfaat baginya, walaupun penghasilan yang didapatkan sebagai freelancer tidak tetap.
Pada tahun 2003 karena tuntutan ekonomi dan keluarga ia memutuskan untuk bekerja dan berpenghasilan “tetap”. Donny pun bekerja di Custodial Services Division Bank Niaga, menjadi bagian dari struktur manajerial. Pada titik ini ia sadar bahwa menjadi karyawan tidak semudah yang ia kira. Apa yang diucapkannya saat menjadi instruktur tentang aplikasi SDM tidak mudah untuk diaplikasikan di pekerjaan dengan banyak sekali faktor faktor yang bergerak dinamis di dalamnya. Pada titik ini ia sadar, memang “mengucapkan memang lebih mudah daripada melakukan”. Walaupun ia sendiri menyadari pekerjaan ini tidak cocok baginya ia memutuskan untuk bertahan, karena banyak hal hal yang bermanfaat yang bisa ia pelajari sebagai seorang karyawan sekaligus membayar omongan omongan sok tahunya dulu.
Salah satu kebanggaan lain yang tak terlupakan sewaktu menjadi mahasiswa adalah pada tahun 1998 ikut “berjuang” bersama teman teman mahasiswa Indonesia menjadi titik kecil berwarna warni yang berteriak lantang, bergerak sesak memenuhi gedung DPR/MPR.
Selama masa kuliah selain aktif di kampus, dan menjadi Ketua Karang Taruna RW 06 di lingkungannya, ia bekerja freelance menjadi Instruktur Outbound Management Training di PT BINA INTI MUDA UTAMA, sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia di Jakarta.
Donny menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2001, dengan skripsi tentang strategi periklanan dan komunikasi pemasaran. Setelah skripsinya selesai ia langsung merayakannya dengan pergi mendaki Mahameru dengan teman temannya untuk merayakan upacara bendera 17 agustus di puncaknya. Sebuah perjalanan yang kelak akan merubah hidupnya.
Saat bekerja sebagai Trainer/ Instructor SDM ia mendapatkan banyak sekali pelajaran tentang sumber daya manusia dan pengaplikasiannya di lapangan. Saat pelatihan, ia bertemu dengan masalah masalah yang dihadapi struktur struktur manajerial, benturan benturan antara nilai nilai perusahaan dan nilai nilai individu. Ia sadar pekerjaan ini sangat bermanfaat baginya, walaupun penghasilan yang didapatkan sebagai freelancer tidak tetap.
Pada tahun 2003 karena tuntutan ekonomi dan keluarga ia memutuskan untuk bekerja dan berpenghasilan “tetap”. Donny pun bekerja di Custodial Services Division Bank Niaga, menjadi bagian dari struktur manajerial. Pada titik ini ia sadar bahwa menjadi karyawan tidak semudah yang ia kira. Apa yang diucapkannya saat menjadi instruktur tentang aplikasi SDM tidak mudah untuk diaplikasikan di pekerjaan dengan banyak sekali faktor faktor yang bergerak dinamis di dalamnya. Pada titik ini ia sadar, memang “mengucapkan memang lebih mudah daripada melakukan”. Walaupun ia sendiri menyadari pekerjaan ini tidak cocok baginya ia memutuskan untuk bertahan, karena banyak hal hal yang bermanfaat yang bisa ia pelajari sebagai seorang karyawan sekaligus membayar omongan omongan sok tahunya dulu.
·
Pada pertengahan 2004 ia memutuskan untuk resign dan kembali menjadi Instruktur Outbound di PT Prima Kompetensi, sebuah perusahaan konsultan SDM di Jakarta. Kembali menjadi freelancer dengan penghasilan tidak tetap, tetapi dengan ilmu yang berlimpah ruah, dan pernah menjadi pegwai.
Karena sangat menyukai buku, suatu hari ia bertekad untuk “mengarang” sebuah buku, sebuah novel. Maka hanya dengan bermodal semangat ia mulai menulis dan menulis. Saat itu pekerjaan menjadi instruktur pun sedang tidak terlalu banyak, maka ia pun menulis setiap hari dan akhirnya selama hampir kurang lebih tiga bulan tulisan itu selesai. Ia memberi judul pada novelnya “5 cm” sebuah ilham yang ia dapatkan sehabis bangun tidur di pagi hari. “Ilham” yang pastinya terkontaminasi dengan buku buku motivasi novel novel pencerahan yang harus ia lalap untuk keperluan mengajar, serta sebuah perjalanan yang tak terlupakan 17 Agustus di puncak Mahameru.
Setelah mencari cari penerbit kesana kemari, pada awal tahun 2005 , ia mengajukan novel itu ke PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO). “memaksa” mengajukan tulisannya dalam bentuk 3.5 floppy ( dua buah) karena saat itu ia tidak mempunyai uang untuk membuat Hard Copynya sebanyak 400 halaman.
Setelah hampir kurang lebih 4 – 5 bulan GRASINDO menyatakan setuju untuk menerbitkan novel “aneh” berwarna hitam yang berjudul “5 cm” ini . Pada tanggal 21 Mei 2005, 5 cm mulai beredar di pasaran, dan terus dicetak ulang sampai tulisan ini dibuat - hampir 100 ribu kopi novel ini telah terjual.
Allhamdulillah ia pun merasakan anugerah yang tak terkira dari 5 cm. Novel yang “aneh dan innocent” ini ternyata dapat diterima oleh masyarakat. Ia bisa berpergian hampir ke seluruh kampus kampus dan sekolah sekolah di Jawa dan Sumatera, dipanggil untuk bedah buku,talkshow dan workshop menulis. Ternyata di hampir 30 kampus,sekolah,toko buku, klab buku, book fair, yang ia kunjungi, ia merasakan anugerah yang luar biasa dari para pembaca, bahwa 5 cm dapat diterima dan banyak yang bilang bahwa 5 cm telah merubah diri mereka menjadi orang yang lebih baik. Setiap ia mendengar kalimat itu, ia tersadar sendiri, mengerti arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Pada awal 2008 Donny memutuskan melepaskan semua pekerjaannya dan menjalani hidup sebagai penulis. Sebuah keputusan yang telah ia pikirkan masak masak. Sebuah perjuangan baru terbentang di depannya. Sebuah keputusan yang nekat, karena ia sendiri sadar masih terhitung baru-masih berjalan bertelanjang kaki di dunia tulis menulis.
Pada akhir 2008, setelah 3 tahun kembali bergerilya mengajukan 5 cm ke berbagai Production House (PH), Donny menandatangani kontrak dengan SORAYA INTERCINE FILMS, yang berencana akan mengangkat 5 cm ke layar lebar. Di PH yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia perfilman Indonesia ini kembali ia belajar banyak tentang arti sebuah idealisme dan industri, dua titik yang susah sekali untuk dipertemukan. Dua titik yang apabila dipertemukan dan teruji akan menghasilkan sebuah masterpiece. Di filmnya nanti , 5 cm akan berdarah darah mencoba menuju kesana.
Pada pertengahan 2004 ia memutuskan untuk resign dan kembali menjadi Instruktur Outbound di PT Prima Kompetensi, sebuah perusahaan konsultan SDM di Jakarta. Kembali menjadi freelancer dengan penghasilan tidak tetap, tetapi dengan ilmu yang berlimpah ruah, dan pernah menjadi pegwai.
Karena sangat menyukai buku, suatu hari ia bertekad untuk “mengarang” sebuah buku, sebuah novel. Maka hanya dengan bermodal semangat ia mulai menulis dan menulis. Saat itu pekerjaan menjadi instruktur pun sedang tidak terlalu banyak, maka ia pun menulis setiap hari dan akhirnya selama hampir kurang lebih tiga bulan tulisan itu selesai. Ia memberi judul pada novelnya “5 cm” sebuah ilham yang ia dapatkan sehabis bangun tidur di pagi hari. “Ilham” yang pastinya terkontaminasi dengan buku buku motivasi novel novel pencerahan yang harus ia lalap untuk keperluan mengajar, serta sebuah perjalanan yang tak terlupakan 17 Agustus di puncak Mahameru.
Setelah mencari cari penerbit kesana kemari, pada awal tahun 2005 , ia mengajukan novel itu ke PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO). “memaksa” mengajukan tulisannya dalam bentuk 3.5 floppy ( dua buah) karena saat itu ia tidak mempunyai uang untuk membuat Hard Copynya sebanyak 400 halaman.
Setelah hampir kurang lebih 4 – 5 bulan GRASINDO menyatakan setuju untuk menerbitkan novel “aneh” berwarna hitam yang berjudul “5 cm” ini . Pada tanggal 21 Mei 2005, 5 cm mulai beredar di pasaran, dan terus dicetak ulang sampai tulisan ini dibuat - hampir 100 ribu kopi novel ini telah terjual.
Allhamdulillah ia pun merasakan anugerah yang tak terkira dari 5 cm. Novel yang “aneh dan innocent” ini ternyata dapat diterima oleh masyarakat. Ia bisa berpergian hampir ke seluruh kampus kampus dan sekolah sekolah di Jawa dan Sumatera, dipanggil untuk bedah buku,talkshow dan workshop menulis. Ternyata di hampir 30 kampus,sekolah,toko buku, klab buku, book fair, yang ia kunjungi, ia merasakan anugerah yang luar biasa dari para pembaca, bahwa 5 cm dapat diterima dan banyak yang bilang bahwa 5 cm telah merubah diri mereka menjadi orang yang lebih baik. Setiap ia mendengar kalimat itu, ia tersadar sendiri, mengerti arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Pada awal 2008 Donny memutuskan melepaskan semua pekerjaannya dan menjalani hidup sebagai penulis. Sebuah keputusan yang telah ia pikirkan masak masak. Sebuah perjuangan baru terbentang di depannya. Sebuah keputusan yang nekat, karena ia sendiri sadar masih terhitung baru-masih berjalan bertelanjang kaki di dunia tulis menulis.
Pada akhir 2008, setelah 3 tahun kembali bergerilya mengajukan 5 cm ke berbagai Production House (PH), Donny menandatangani kontrak dengan SORAYA INTERCINE FILMS, yang berencana akan mengangkat 5 cm ke layar lebar. Di PH yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia perfilman Indonesia ini kembali ia belajar banyak tentang arti sebuah idealisme dan industri, dua titik yang susah sekali untuk dipertemukan. Dua titik yang apabila dipertemukan dan teruji akan menghasilkan sebuah masterpiece. Di filmnya nanti , 5 cm akan berdarah darah mencoba menuju kesana.
Inilah sosok pak master donny dhirgantoro, kalau dalam 5 CM filmnya
dia mirip Ian yang sapaannya kayag Teletubies gitu deh :
·
2
Gambar teratas versi St_Adventure ratingnya tingkat 5 deh diantara 5
bintang dan dapet nilai 10 deh dari angka 1-10 ( yang baru rencananya ) :
Ini yang baru bisa disebut seni dan ini adalah seni aji keisengan
yang belajar dari temanku logonya gini nih "iseng-iseng" tapi ini bukan
jorok lho. iseng-iseng dalam artian coba-coba gitu deh tapi bahasanya
agak diplesetin. Eh, 6 CM gimana ya kira-kira bsa terkenal kayag 5CM nggk, udah banyak ceritanya soalnya ? moga aja bisa terkenal seperti 5 CM.
Amin dah pokoknya !!
Sumber : http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/2027/donny-dhirgantoro.html
Sumber : http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/2027/donny-dhirgantoro.html


